Hipotiroid Kongenital adalah kondisi yang terjadi saat bayi dilahirkan dengan kelenjar tiroid yang tidak berfungsi dengan baik atau tidak berfungsi sama sekali. Kondisi ini bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami apa itu Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) dan mengapa prosedur ini sangat penting dilakukan pada bayi baru lahir.
Apa Itu Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK)?
Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) adalah prosedur medis yang bertujuan untuk mendeteksi adanya gangguan pada kelenjar tiroid pada bayi baru lahir. Kondisi ini termasuk dalam golongan penyakit metabolik bawaan yang bisa mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak bayi jika tidak segera ditangani.
SHK biasanya dilakukan 2-4 hari setelah bayi lahir. Prosesnya sederhana dan tidak menyakitkan. Dokter akan mengambil sampel darah dari tumit bayi dan kemudian menguji sampel tersebut untuk mengecek apakah ada gangguan pada kelenjar tiroid bayi.
Mengapa SHK Penting?
Hipotiroid Kongenital adalah kondisi serius yang bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani. Kondisi ini bisa mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak bayi, yang akhirnya bisa berdampak pada perkembangan mental dan fisik bayi di masa depan.
Di Indonesia, SHK menjadi penting karena prevalensinya yang tinggi. Menurut data dari Kementerian Kesehatan RI, prevalensi Hipotiroid Kongenital di Indonesia adalah 1 dari 2.000 bayi yang lahir hidup. Oleh karena itu, penting bagi setiap bayi baru lahir untuk menjalani prosedur skrining ini.
Gejala dan Dampak Hipotiroid Kongenital
Bayi dengan Hipotiroid Kongenital biasanya tidak menunjukkan gejala yang jelas pada awalnya. Beberapa gejala yang mungkin muncul antara lain bayi tampak lesu, memiliki kulit kering, mengalami konstipasi, memiliki suara serak, dan memiliki wajah dan lidah yang tampak bengkak.
Jika tidak segera ditangani, Hipotiroid Kongenital bisa berdampak buruk pada perkembangan bayi. Kondisi ini bisa menyebabkan gangguan pertumbuhan, keterlambatan perkembangan motorik, dan masalah belajar. Dalam kasus yang parah, Hipotiroid Kongenital bisa menyebabkan kretinisme, kondisi yang ditandai dengan pertumbuhan yang terhambat dan disabilitas intelektual.
Penanganan Hipotiroid Kongenital
Jika bayi didiagnosis dengan Hipotiroid Kongenital melalui skrining, penanganan segera akan dilakukan. Penanganan umumnya melibatkan terapi penggantian hormon tiroid seumur hidup. Dengan penanganan yang tepat dan segera, bayi dengan Hipotiroid Kongenital bisa tumbuh dan berkembang dengan normal, dan memiliki kualitas hidup yang baik.
Kesimpulan
Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) adalah prosedur medis yang sangat penting untuk mendeteksi adanya gangguan pada kelenjar tiroid pada bayi baru lahir. Dengan deteksi dan penanganan yang segera, bayi dengan Hipotiroid Kongenital bisa tumbuh dan berkembang dengan normal.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami apa itu SHK dan mengapa prosedur ini sangat penting. Kita juga perlu memahami gejala dan dampak Hipotiroid Kongenital, serta penanganannya, untuk bisa memberikan dukungan yang tepat bagi bayi dan keluarga yang menghadapi kondisi ini.
Mengingat prevalensi Hipotiroid Kongenital yang cukup tinggi di Indonesia, penting bagi setiap bayi baru lahir untuk menjalani skrining ini. Dengan begitu, kita bisa mendeteksi dan menangani kondisi ini sejak dini, dan membantu bayi untuk tumbuh dan berkembang dengan baik.